Sabtu, 08 Desember 2012

Akses Air Bersih Masih Jadi Masalah Besar Asia


Akses terhadap air bersih masih menjadi masalah bagi sebagian besar penduduk Asia, terutama bagi warga miskin. Kondisi tersebut diungkapkan oleh perwakilan UN Habitat di 14 negara Asia Pasifik dalam pertemuan Environtmental Technology Expert Group Meeting di Fukuoka, Jepang, 28 November 2012.

"Afghanistan tidak punya pengolahan air bersih sama sekali, padahal pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan fasilitas dasar," kata Jan Turkstra, Perwakilan UN Habitat di Afghanistan. Sebagian besar masyarakat mendapatkan air tanah yang jumlahnya tidak banyak dan kian terpolusi.

Menurut Direktur UN-Habitat Asia Pasifik Chris Radford, banyak masalah mengenai air di Asia Pasifik sehingga pertemuan ini digelar untuk mencari solusi dan berbagi pengetahuan antara Jepang dan negara-negara berkembang. Pertemuan itu juga dihadiri pada ahli dari perusahaan swasta Jepang untuk membagi pengetahuan dan teknologinya mengenai pengadaan dan pemurnian air.

Di Pakistan, pengolahan limbah masih sangat buruk. "Untuk mendapatka air yang layak minum, kami membutuhkan cara pembuangan limbah domestik yang aman," kata Sardar Hamid Mumtaz Khan, Manager Komunitas UN Habitat Pakistan.

Sekretaris Kementrian Pembangunan Perkotaan Nepal, Kishore Tappa, menyatakan bahwa penduduk Nepal masih harus berjuang untuk mendapatkan air bersih. Kondisi ini diperburuk dengan sanitasi yang buruk dimana 57 persen populasi masih membuang hajat sembarangan, yang dapat memicu timbulnya aneka penyakit, misalnya diare. "Meningkatkan sanitasi terbukti menurunkan tingkat diare," kata dia.

Penduduk Sri Lanka masih bergantung pada sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. "Instalasi air ledeng tidak menguntungkan karena terkendala banyak isu implementasi seperti pembangunan yang terhenti di tengah jalan," kata SS Mudalige, Direktur Divisi Fasilitas Publik Sri Lanka. Untuk mendapatkan air bersih, negara itu membutuhkan fasilitas pemurnian air.

Direktur Divisi Air dan Sanitasi Myanmar Lai Lai Win menjelaskan bahwa di negaranya hanya 30 orang yang tinggal di perkotaan sedangkan sisanya di pedesaan. "Kami butuh solusi penyediaan air untuk mereka yang tinggal di pedesaan, karena anggaran tidak cukup," kata dia. Tingkat kontaminasi arsenik pada air juga masih tinggi.

Pencemaran arsenik dalam air juga menjadi masalah di Bangladesh, dimana 57 persen populasi tidak punya akses untuk mendapatkan air bersih. 61 persen tidak mempunyai fasilitas sanitasi yang memadai. "Harus ada peningkatan kesadaran terhadap kebersihan," kata Binod Shrestha dari UN Habitat Bangladesh.

Di Laos, infrastruktur air bersih terpusat di lima kota besar. Penduduk pedesaan, apalagi di daerah terpencil harus memenuhi kebutuhan airnya sendiri.

Urbanisasi penduduk dari desa ke kota menimbulkan permasalahan tersendiri bagi penyediaan air di Kamboja. "Perbaikan fasilitas air kalah jauh dibanding tingkat urbanisasi, apalagi polusi makin meningkat," kata Vanna Sok, perwakilan UN Habitat Kamboja. 

Masalah polusi ini juga dialami Vietnam, dimana limbah tidak diolah sebelum dibuang. "Lebih dari 50 persen populasi di daerah suburban menggunakan sumber air yang tidak aman," kata Ho Ky Minh, Direktur Institut Sosioekonomi di Dan Nang Vietnam.  Penyelesaian masalah air harus berpacu dengan tingkat urbanisasi, dan harus dibarengi dengan pengurangan polusi sebagai akibat industrialiasasi dan pertumbuhan penduduk.

Adapun di Cina, 50 persen kota mengalami kekurangan air dengan masalah yang berbeda-beda pada setiap daerah. "Ada kekurangan air di daerah Selatan, polusi yang berat di pesisir dan tidak kekurangan teknologi pengolahan di barat," kata dia. 

Masalah juga dialami tetangga Cina, Mongolia. 40 persen warganya masih tinggal di dalam tenda yang terserak di seluruh negeri. Pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan air dengan menyediakan kios air kecil, yang masih belum merata.

Sarah Mecartney, perwakilan UN Habitat di Pasifik menjelaskan bahwa air adalah masalah besar di daerah kepulauan berisi 22 negara itu. "Tidak banyak sumber air yang bisa digunakan. Harus ada akses untuk warga kota yang miskin," kata dia.

Meski demikian, terdapat beberapa contoh pengelolaan air yang baik di negara-negara berkembang di Asia. Salah satunya adalah di Indonesia. "Ada kota-kota di Indonesia yang bisa menjadi contoh bagi pengelolaan air di kota lain, misalnya Banjarmasin," kata Bruno Dercon, perwakilan UN Habitat di Indonesia. Apa yang telah dilakukan di Banjarmasin diharapkan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia maupun Asia.

Apakah air bersih bisa didapatkan dengan mudah di kota Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar